Kewajiban Anak
Di dalam kitab Al Fiqh Al Manhaji
Ala Madzhab Al Imam Al Syafii karya Mustafa al-Khan, Mustafa al-Bagha dan
Ali al-Syarbiji diterangkan bahwa ada dua kewajiban anak terhadap orangtua,
menurut agama Islam.
a.
Pertama, taat dan berbuat baik kepada orangtua dalam hal apa saja
kecuali kemaksiatan. Hal ini berdasarkan firman Allah Swt.
وَقَضَىٰ رَبُّكَ
أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا
يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا
أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan Tuhanmu telah
memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu
berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di
antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka
sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan
janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang
mulia.” (Q.S. Al Isra’; 23).
وَإِنْ جَاهَدَاكَ
عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ
وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ
إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan jika keduanya
memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu
tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya
di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian
hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu
kerjakan.” (Q.S Luqman: 15).
b.
Kedua, memberikan nafkah kepada orangtua, jika mereka dalam keadaan
fakir atau miskin, sedangkan anak dalam keadaan mampu. Hal ini berdasarkan
hadis Rasulullah saw. sebagaimana berikut.
عَنْ عُمَارَةَ بْنِ
عُمَيْرٍ عَنْ عَمَّتِهِ أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فِي
حِجْرِي يَتِيمٌ أَفَآكُلُ مِنْ مَالِهِ ؟ فَقَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى
الله عليه وسلم: إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ
وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ.
“Dari Umarah bin
Umair dari bibiknya bahwasannya ia (bibiknya) bertanya kepada Aisyah r.a. “Anak
asuhku adalah yatim, apakah aku boleh makan dari hartanya? “ Aisyah menjawab:
“Rasulullah saw. bersabda: Sungguh di antara harta yang paling baik dimakan
oleh seseorang adalah dari hasil kerjanya dan hasil kerja anaknya.”(HR. Abu
Daud)
عَنْ عَمْرِو بْنِ
شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِيَّ صلى الله
عليه وسلم، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لِي مَالاً وَوَلَدًا، وَإِنَّ
وَالِدِي يَحْتَاجُ مَالِي .قَالَ: أَنْتَ وَمَالُكَ لِوَالِدِكَ، إِنَّ
أَوْلاَدَكُمْ مِنْ أَطْيَبِ كَسْبِكُمْ، فَكُلُوا مِنْ كَسْبِ أَوْلاَدِكُمْ.
“Dari Amru bin Syuaib
dari bapaknya, dari kakeknya, bahwasannya ada seorang laki-laki yang mendatangi
Nabi Saw. Lalu ia bertanya: “Ya Rasulallah, sungguh aku memiliki harta dan
anak, dan sungguh ayahku butuh (juga) hartaku”. Nabi saw. bersabda: “Kamu dan
hartamu (juga) untuk ayahmu, sungguh anak-anak kalian itu termasuk yang paling
baik dari usaha kalian. Maka makanlah dari hasil kerja anak-anak kalian.” (HR.
Abu Daud).
Demikianlah dua kewajiban anak
terhadap orangtua yang harus dilakukan. Pertama, taat dan berbuat baik
kepada mereka, tetapi tidak dalam kemaksiatan. Kedua, memberi nafkah
jika mereka dalam keadaan fakir atau miskin, sedangkan ia dalam keadaan
mampu.
Blogger Comment
Facebook Comment